Penggunaan Zat Aditif pada Bahan Makanan

Bahan makanan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, sebab makanan yang kita makan bukan saja harus memenuhi gizi tetapi harus juga aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan lain yang menimbulkan bahaya terhadap kesehatan manusiaMakanan (Pangan) juga sebagai kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya merupakan hak asasi setiap rakyat Indonesia harus senantisa tersedia cukup setiap waktu, aman, bermutu dan bergizi. 

Kualitas makanan harus diperhatikan agar makanan dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kualitas tersebut mencakup ketersediaan zat-zat gizi yang dibutuhkan dan pencegahan terjadinya kontaminasi makanan dengan zat-zat yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan. Manusia dalam hidupnya membutuhkan makanan dan telah diketahui bahwa makanan tersebut haruslah memenuhi zat-zat gizi untuk digunakan tubuh sebagai pertumbuhan, perkembangan dan energy. Selain itu, keamanan makanan yang bebas dari pencemaran juga diperlukan tubuh agar kesehatan tidak terganggu. Secara realita, banyak bahan makanan yang di produksi baik skala menegah maupun skala industri mereka menambahan suatu bahan tambahan makanan tersebut tidak sesuai lagi dengan kadar yang di tentukan oleh badan hukum yang sesuai, jika hal ini tidak di tangani secara serius, maka akan berdampak kepada kesehatan masyarakat indonesia pada umumnya. Dan jika hal ini tidak terkendali, maka masyarakat harus bijak memilah dan memilih makanan yang mempunyai nilai gizi yang baik.   

Sejak lama kita sendiri sudah mencicipi bahan tambahan makanan tersebut dengan beraneka rasa dan warna, dan apakah kita sudah mengetahui dan menyadari bahwa apa itu bahan tambahan makanan atau lebih dikenal dengan zat aditif. Zat aditif (bahan tambahan makanan) merupakan  zat-zat  yang  ditambahkan  pada makanan selama proses produksi, pengemasan atau penyimpanan untuk maksud tertentu. Penambahan zat aditif dalam makanan berdasarkan pertimbangan agar mutu dan kestabilan makanan tetap terjaga dan untuk mempertahankan nilai gizi yang mungkin rusak atau hilang selama proses pengolahan

Aditif makanan atau bahan tambahan makanan adalah bahan yang  ditambahkan  dengan  sengaja  ke dalam  makanan  dalam jumlah  kecil,  dengan tujuan untuk memperbaiki penampilan, cita rasa, tekstur, flavor dan memperpanjang daya simpan. Selain itu dapat meningkatkan nilai gizi seperti protein, mineral dan vitamin. Bahan tambahan makanan adalah bahan yang bukan secara alamiah merupakan bagian  dari  bahan  makanan,  tetapi  terdapat dalam bahan makanan tersebut karena perlakuan saat pengolahan, penyimpanan atau pengemasan.

Gambar: Aneka Ragam Bahan Makanan
(Sumber Gambar: https://satujam.com)

Pengertian bahan tambahan pangan dalam Peraturan Menteri KesehataRI No. 772/Menkes/Per/IX/88 dan No. 1168/Menkes/PER/X/1999 (sekarang telah diganti Peraturan Menteri Kesehatan No. 033 Tahun 2012) secara umum adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan komponen khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, dan penyimpanan (Cahyadi, 2009).

Tujuan penggunaan bahan tambahan pangan adalah dapat meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi dan kualitas daya simpan, membuat bahapangan  lebih mudadihidangkan, serta mempermudah preparasi bahan pangan. Pada umumnya bahan tambahan pangan dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu sebagai berikut:

  1. Bahan tambahan pangan yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam makanan, dengan mengetahui komposisi bahan tersebut dan maksud penambahan itu dapat mempertahankan kesegaran, cita rasa, dan membantu pengolahan, sebagai contoh pengawet, pewarna, dan pengeras.

  2. Bahan tambahan pangan yang tidak sengaja ditambahkan, yaitu bahan yang tidak mempunyai fungsi dalam makanan tersebut, terdapat secara tidak sengaja, baik dalam jumlasedikit atau cukup banyak akibat perlakuan selama proses produksi, pengolahan, dan pengemasan. Bahan ini dapat pula merupakan residu atau kontaminan dari bahan yang sengaja ditambahkan untuk tujuan produksi baham mentah atau penanganannya yang masih terus terbawa ke dalam makanan yang akan dikomsumsi. Contoh  bahan  tambahan  pangan  dalagolongan  ini  adalah residu pestisida (termasuk insektisida, herbisida, fungisida, dan rodentisida), antibiotik, dan hidrokarbon aromatik polisiklis.

Baha tambahan   panga yang   digunaka hany dapat dibenarkan apabila:

  1. Dimaksudkan untuk mencapai masing-masing tujuan penggunaan dalam pengolahan;
  2. Tidak digunakan untuk  menyembunyikan  penggunaan  bahan yang salah atau tidak memenuhi persyaratan
  3. Tidak digunakan untuk menyembunyikan  cara   kerj yang bertentangan dengan cara produksi yang baik untuk pangan.
  4. Tida digunaka untu menyembunyikan   kerusaka bahan pangan.

Di Indonesia telah disusun peraturan tentang Bahan Tambahan Pangan yang diizinkan ditambahkan dan yang dilarang (disebut Bahan Tambahan Kimia) oleh Departemen Kesehatan diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 722/MenKes/Per/IX/88, terdiri dari golongan Baha Tambahan Pangan yang diizinkan di antaranya sebagai berikut:

  1. Antioksidan (antioxidant).
  2. Antikempal (anticaking agent.
  3. Pemanis buatan (artificial sweeterner).
  4. Pemutih dan pematang telur (flour treatment agent)
  5. Pengemulsi,  pemantap,   dan  pengental  (emulsifier,  stabilizer, thickener).
  6.  Pengawet (preservative).
  7. Pengeras (firming agent).
  8. Pewarna (colour).
  9. Penyedap   rasa   dan   aroma,   penguat   rasa   (flavour,   flavour enhancer)
  10. Sekuestran (sequestrant).

Selain bahan tambahan pangan yang tercantum dalam Peraturan Menteri tersebut masih ada beberapa bahan tambahan pangan lainnya yang biasa digunakan dalam pangan, misalnya: (1) Enzim, yaitu bahan tambahan pangan yang berasal dari hewan, tanaman, atau mikroba, yang dapat menguraikan zat secara enzimatis, misalnya membuat pangan lebih empuk, lebih larut, dan lain-lain. (2) Penambah gizi, yaitu bahan tambahan berupa asam amino, mineral,  atau  vitamin,  baik  tunggal  maupun  campuran,  yang dapat meningkatkan nilai gizi pangan. (3) Humektan, yaitu bahan tambahan pangan yang dapat menyerap lembab (uap air) sehingga mempertahankan kadar air pangan.  

Beberapa bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan,  berdasarkan  Permenkes  RI  No.  722/Menkes/Per/IX/88 dan c sebagai berikut

1.    Natrium tetraborat (boraks).

2.    Formalin (formaldehyd).

3.    Minyak nabati yang dibrominasi (brominanted vegetable oils).

4.    Kloramfenikol (chlorampenicol).

5.    Kalium klorat (pottasium chlorate).

6.    Dietilpirokarbonat (diethylpyrocarbonate, DEPC).

7.    Nitrofuranzon (nitrofuranzon).

8.    P-Phenetilkarbamida (p-phenethycarbamide, dulcin, 4-ethoxphenyl urea).

9.    Asam salisilat dan garamnya (salicylic acid and its salt).  

Dengan demikian, apabila mengkonsumsi beberapa bahan tambahan makanan tersebut diatas tanpa terkendali, dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi penggunanya, makanya Permenkes melarang zat-zat aditif tersebut beredar dan digunakan secara massal dalam produksi bahan tambahan makanan. Mengenai pembahasan lebih lanjut tentang zat aditif, rekan-rekan dapat mengikuti blog ini secara terus-menerus.  

Referensi: 

Asma Jafar. 2015. Perlindungan Konsumen Terhadap Penggunaan Zat Aditif pada Makanan. Makassar:Universitas Hasanuddin  

TIM POM RI. 2008. Melamin dalam Produk Makanan. Jakarta;Badan Pusat Informasi POM RI

Hart Harold. 1983. Kimia Organik. Jakarta;Erlangga  

Tutik Padmanigrum. 2009. Bahan Aditif dalam Makanan. Yogyakarta:FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (Skripsi) 


loading...

Post a comment

0 Comments